• HNCode Online Judge
  • Trang chủ
  • Bài tập
  • Bài nộp
  • Thành viên
  • Kỳ thi
  • Nhóm
  • Khóa học
  • Wiki
  • Giới thiệu
    • Status
    • Báo cáo tiêu cực
    • Báo cáo lỗi

Tiếng Việt

Tiếng Việt
English

Đăng nhập

Đăng ký

umrohmandiri

  • Giới thiệu
  • Bài tập
  • Bài nộp

Rating
-
Bài tập
0
Điểm
0
Rating #
-
Điểm #
1331

Umroh Mandiri

Giới thiệu

Pengalaman Umroh Mandiri Tanpa Travel: Tantangan dan Berkah

Tidak ada yang pernah membayangkan bahwa perjalanan spiritual hidup Azzam justru dimulai dari sebuah kegagalan besar. Pada usia 42 tahun, ia merasa hidupnya seharusnya sudah mapan. Ia bekerja keras sejak muda, berharap pada usia kepala empat ia sudah mampu memberi kehidupan yang nyaman untuk keluarganya. Namun kenyataan tidak sejalan dengan impian. Ketika perusahaannya tiba-tiba bangkrut, Azzam harus menghadapi kenyataan pahit: ia kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan utama hanya dalam hitungan minggu.

Hari-hari setelahnya terasa gelap. Ia mulai jarang keluar rumah, sulit tidur, dan kehilangan semangat menjalani hidup. Istrinya mencoba menenangkan, tetapi Azzam merasa dirinya gagal sebagai suami dan ayah. Suatu malam, setelah menangis tanpa suara di ruang tamu, ia membuka televisi hanya untuk mengalihkan pikiran. Tidak sengaja ia menonton siaran Masjidil Haram saat salat Isya. Kamera perlahan memperlihatkan Ka'bah dari atas, dikelilingi lautan manusia dalam tawaf yang begitu tertib dan khusyuk. Ada sesuatu di dalam dadanya yang tiba-tiba bergemuruh.

Tanpa sadar ia bergumam pelan, "Ya Allah, kapan aku bisa ke sana?"

Pertanyaan itu terus terngiang berhari-hari. Ia tidak tahu dari mana datangnya keinginan itu, tetapi ada sesuatu di dalam hatinya yang menuntun untuk mendekat pada Tuhan. Ia mulai rajin salat malam, membiasakan membaca Al-Qur’an, dan mengubah caranya berdoa. Pertama kalinya ia tidak lagi meminta penghasilan besar atau kesuksesan, tapi hanya meminta kekuatan untuk bangkit.

Beberapa bulan kemudian, Azzam menemukan pekerjaan baru. Tidak sebesar sebelumnya, tetapi cukup untuk kembali menata kehidupan keluarga. Ia merasa sedikit lebih tenang, tetapi setiap kali melihat video atau gambar Ka'bah, dadanya bergetar. Ia tahu keinginan itu belum hilang. Hingga akhirnya, suatu pagi saat menunggu subuh di masjid, ia mendengar pembicaraan dua jamaah di sebelahnya tentang pengalaman mereka ke Tanah Suci tanpa ikut rombongan besar. Mereka membahas tiket pesawat, hotel dekat masjid, visa, dan transportasi. Saat itulah pikirannya terbuka.

Sepulang dari masjid, Azzam memberanikan diri berbicara kepada istrinya tentang keinginan berhaji atau umrah suatu hari nanti. Tetapi ia jujur mengakui bahwa biaya belum tentu cukup jika menggunakan layanan paket rombongan penuh. Istrinya tersenyum tenang, lalu berkata, "Kalau tidak bisa jalan besar, kita mulai dari langkah kecil. Yang penting niatnya tulus dulu."

Sejak hari itu, Azzam dan istrinya mulai menabung sedikit demi sedikit. Mereka membuat daftar pengeluaran bulanan dan merelakan beberapa hal yang biasanya menjadi keinginan, bukan kebutuhan. Tidak ada yang instan. Dua tahun berlalu hingga tabungan itu akhirnya cukup untuk keberangkatan. Setelah menghitung dan mempertimbangkan berbagai opsi, mereka memutuskan untuk mencoba berangkat sendiri tanpa mengikuti grup besar. Di dalam salah satu paragraf catatannya, Azzam menuliskan strategi perjalanan dengan konsep umroh mandiri, karena ia menyadari perjalanan seperti ini memberikan kesempatan lebih fleksibel dalam beribadah sekaligus belajar banyak tentang kemandirian dan keikhlasan dalam berserah diri kepada Allah سبحانه وتعالى.

Hari keberangkatan tiba. Azzam hampir tidak bisa tidur malam sebelumnya, bukan karena takut, tetapi karena hatinya tidak berhenti berdebar antara haru dan syukur. Ketika pesawat akhirnya mendarat di Madinah terlebih dahulu, Azzam turun dengan perasaan tidak percaya bahwa kakinya benar-benar menginjak tanah para sahabat. Suasana Masjid Nabawi membuatnya merinding. Ia berulang kali menatap kubah hijau, tidak sanggup menahan air mata ketika membaca salam untuk Nabi Muhammad ﷺ.

Setiap ibadah yang dilakukan di Madinah terasa begitu hidup. Ia merasakan kelembutan yang sulit ia temukan di tempat lain. Di antara ribuan manusia, ia merasa seperti mengenal semuanya, karena semuanya datang dengan tujuan yang sama: pulang kepada Tuhan untuk sejenak.

Perjalanan berlanjut ke Makkah. Azzam berpikir ia sudah siap secara mental, tetapi kenyataannya jauh lebih menggetarkan. Ketika Ka'bah perlahan muncul di hadapannya, lututnya gemetar. Tidak ada doa panjang yang spontan keluar, hanya kalimat sederhana yang ia ulangi berkali-kali: "Terima kasih ya Allah, terima kasih ya Allah."

Hari-hari ibadah dijalani dengan campuran lelah dan kebahagiaan yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Ada saat ketika mereka tersesat di antara pintu-pintu Masjidil Haram, dan seorang jamaah dari negara asing menunjukkan arah sambil tersenyum. Ada saat ketika salat subuh begitu ramai hingga mereka tidak mendapat tempat, tetapi ada seseorang mendekat sedikit memberikan ruang. Ada saat ketika makanan di restoran tidak cocok dengan lidah, tetapi mereka tetap menikmatinya karena hati terlalu damai untuk mengeluh.

Perjalanan pulang menjadi momen paling emosional. Azzam menatap Ka'bah lama sekali sebelum meninggalkannya, seolah ingin merekam setiap detailnya di dalam hati. Di bandara, ia menggenggam tangan istrinya tanpa banyak bicara. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Keduanya sama-sama mengerti bahwa hidup mereka tidak lagi sama sepulang dari sana.

Beberapa minggu setelah di rumah, kehidupan mulai kembali normal, tetapi cara memandang hidup sudah berubah sepenuhnya. Azzam tidak lagi mengejar kesempurnaan dunia. Ia fokus pada ketenangan rumah tangga, ibadah, dan rasa syukur. Ia bukan menjadi orang sempurna, tapi ia menjadi manusia yang sadar.

Suatu hari seorang rekan bertanya apakah perjalanan spiritual benar-benar dapat mengubah seseorang. Azzam tersenyum tipis dan menjawab, "Kalau hatimu siap mengetuk pintu Allah سبحانه وتعالى, kamu bukan hanya akan dibukakan, kamu akan dipeluk."

Dan sejak hari itu, Azzam berjanji jika ada siapa pun ingin bertanya tentang perjalanan ke Tanah Suci, ia akan membagi cerita, bukan pamer, tapi berharap ada lebih banyak orang yang juga merasakan perubahan besar yang ia rasakan.

Karena bagi Azzam, keberangkatan itu bukan liburan, bukan perjalanan mewah. Itu adalah perjalanan pulang, perjalanan mencari kembali jati diri, perjalanan di mana seseorang menemukan bahwa Tuhan tidak pernah jauh. Manusia saja yang sering lupa jalan.


«    »
Thứ 2
Thứ 3
Thứ 4
Thứ 5
Thứ 6
Thứ 7
CN
Ít
Nhiều

proudly powered by DMOJ | developed by AlgoMaster team